Jacky Manuputty di Istana: Suara Perdamaian atau Simpul Kepentingan?
Jacky Manuputty di Istana: Suara Perdamaian atau
Simpul Kepentingan?
![]() |
| Dokumentasi Pribadi: Jacky Manuputty |
Oleh: Rio Rocky Hermanus, S.Fil., M.,Th
Ada sesuatu yang menarik
dari keputusan Presiden Prabowo Subianto mengangkat Pdt. Jacklevyn Frits
Manuputty sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Di tengah
komposisi 26 anggota Wantimpres yang datang dari berbagai latar belakang agama,
profesi, dunia usaha, pemerintahan, politik, hukum, dan masyarakat sipil, nama
Jacky membawa warna yang berbeda. Ia datang bukan terutama dari panggung
kekuasaan, melainkan dari pengalaman panjang merawat perdamaian, keberagaman,
dan kehidupan lintas iman.
Presiden Prabowo secara
resmi mengangkat 26 anggota Wantimpres berdasarkan Keputusan Presiden Nomor
107/P Tahun 2026 pada Jumat, 2 Oktober 2026, di Istana Negara, Jakarta. Dalam
daftar tersebut, Jacky Manuputty tercatat sebagai anggota.
Namun ada satu catatan
yang justru membuat pengangkatan ini semakin menarik untuk dibicarakan: Jacky
tidak hadir dalam pelantikan.
Dari Maluku, membawa pengalaman perdamaian. Tetapi ada pertanyaan tentang keterwakilan. Ketidakhadiran yang meninggalkan tanda tanya. Menjaga agar perdamaian tidak menjadi aksesori politik
Jacky Manuputty bukan
nama yang muncul secara tiba-tiba dalam percakapan kebangsaan. Sebagai pendeta
Gereja Protestan Maluku dan Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia
(PGI) periode 2024–2029, ia selama ini berada dalam ruang pelayanan yang
bersentuhan langsung dengan isu kerukunan, kemanusiaan, kebebasan beragama, dan
perdamaian. (https://www.metrotvnews.com)
Maluku sendiri memberi
konteks penting terhadap perjalanan tersebut. Daerah yang pernah mengalami
konflik komunal memiliki pengalaman pahit sekaligus berharga tentang bagaimana
perdamaian harus dibangun bukan sekadar melalui slogan, tetapi melalui perjumpaan,
rekonsiliasi dan kepercayaan.
Karena itu, Jacky dapat
dilihat sebagai semacam orkestra
perdamaian dari Maluku. Ia tidak bekerja dengan satu instrumen
saja. Agama, masyarakat, kemanusiaan, rekonsiliasi dan kebangsaan menjadi
bagian dari pengalaman yang membentuk cara pandangnya.
Dalam beberapa kesempatan
terakhir, Jacky juga terus menyuarakan pentingnya gereja menjadi agen
perdamaian dan memupuk kerukunan di tengah masyarakat pluralistik. Pada
September 2026, misalnya, ia menekankan pentingnya lembaga agama mengambil
peran aktif dalam memperjuangkan kebebasan beragama dan berkeyakinan. (PGI.OR.ID)
Pengalaman seperti inilah
yang seharusnya menjadi modal ketika seseorang masuk ke ruang pertimbangan
Presiden.
Justru karena pengalaman
Jacky begitu kuat, pengangkatannya sebagai Wantimpres patut dibaca lebih dalam.
Pertanyaan pentingnya
bukan semata-mata apakah Jacky pantas atau tidak berada di sana. Pertanyaan
yang lebih mendasar adalah: apa
yang sebenarnya ingin dihadirkan Presiden melalui figur Jacky?
Apakah ia ditempatkan
sebagai representasi suara gereja? Apakah sebagai representasi umat Kristen? Apakah sebagai tokoh perdamaian lintas iman? Ataukah karena pengalaman
personalnya dalam membangun rekonsiliasi?
Pertanyaan ini penting
karena seorang anggota Wantimpres pada dasarnya bukanlah delegasi organisasi.
Wantimpres bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden, baik
diminta maupun tidak diminta. Dalam UU Nomor 64 Tahun 2024, Wantimpres RI juga
ditegaskan sebagai lembaga negara yang menjalankan fungsi tersebut. (Wantimpres
RI)
Karena itu, istilah
“keterwakilan” harus digunakan secara hati-hati. Jacky tidak otomatis menjadi
wakil PGI di Istana, sebagaimana ia juga tidak otomatis menjadi wakil seluruh
umat Kristen di Bangsa ini.
Di sinilah kritik
konstruktif perlu diletakkan.
Jika yang hendak
dihadirkan adalah suara perdamaian dan masyarakat sipil, sebenarnya tersedia
banyak figur lain dengan pengalaman serupa. Mengapa harus Ketua Umum PGI yang
sedang menjalankan mandat kepemimpinan gereja-gereja di Indonesia?
Pertanyaan ini bukan
untuk mengecilkan Jacky. Sebaliknya, justru karena posisi Jacky penting, publik
berhak mempertanyakan desain keterwakilan tersebut. Apakah negara membutuhkan Jacky sebagai pribadi,
atau membutuhkan ruang
yang selama ini ia representasikan?
Jawaban atas pertanyaan
itu akan menentukan bagaimana publik membaca pengangkatan ini.
Pertanyaan kedua bahkan
lebih menarik: mengapa
Jacky tidak hadir dalam pelantikan?
Dalam pelantikan 26
anggota Wantimpres pada 2 Oktober 2026, sebanyak 24 orang hadir. Dua nama yang
tidak hadir adalah Jacky Manuputty dan Ignasius Jonan. Ketua Wantimpres
Pratikno menyatakan bahwa ketidakhadiran tersebut telah diatur oleh sekretariat
dan menegaskan bahwa keduanya tetap tercantum dalam Keppres. Namun, alasan
ketidakhadiran Jacky secara spesifik tidak disampaikan kepada publik dalam
keterangan tersebut. (detiknews)
Di sinilah ruang
pertanyaan publik seharusnya dibuka, bukan ruang spekulasi.
Ketidakhadiran seseorang
dalam sebuah pelantikan tentu dapat memiliki berbagai alasan. Tetapi karena ini
menyangkut jabatan publik, penjelasan yang terang akan jauh lebih sehat
daripada membiarkan ruang publik dipenuhi tafsir.
Apalagi Jacky masih
dikenal sebagai Ketua Umum PGI. Maka publik wajar bertanya tentang bagaimana
hubungan antara mandat pelayanan gerejawi dan tugas baru sebagai anggota
Wantimpres akan dijalankan.
Bukan karena keduanya
harus dipertentangkan, tetapi karena jabatan publik membutuhkan kejelasan
tanggung jawab.
Pada akhirnya,
pengangkatan Jacky seharusnya tidak berhenti pada kebanggaan bahwa seorang anak
Maluku masuk ke lingkaran penasihat Presiden. Lebih jauh dari itu, publik perlu
memastikan bahwa pengalaman perdamaian yang dibawa dari Maluku benar-benar
hadir dalam proses pengambilan keputusan negara.
Sebab perdamaian tidak
boleh hanya menjadi aksesori politik atau Sticky Note Religion.
Jika Jacky masuk ke
Wantimpres dengan membawa pengalaman masyarakat yang pernah merasakan konflik,
maka suara kelompok rentan, kebebasan beragama, rekonsiliasi dan keadilan
sosial semestinya mendapatkan ruang dalam nasihat yang ia berikan.
Dan jika pada akhirnya ia
harus memilih antara menjadi simbol keterwakilan dan menjadi suara yang kritis
di dalam kekuasaan, harapannya sederhana: jangan sampai kedekatan dengan kekuasaan membuat
suara perdamaian kehilangan jarak kritisnya.
Kiprahnya di maluku kini telah memberikan
Indonesia banyak pelajaran tentang arti hidup bersama. Kini, jika Jacky
benar-benar menjadi bagian dari ruang pertimbangan Presiden, tantangannya
adalah membawa pelajaran itu ke pusat kekuasaan tanpa kehilangan akar
pengabdiannya.
Karena menjadi penasihat
Presiden bukan sekadar soal duduk di dalam Istana. Ia adalah kesempatan untuk
memastikan bahwa suara dari luar pusat kekuasaan tetap terdengar ketika
keputusan-keputusan besar tentang bangsa sedang dibuat.
Dan mungkin, justru dari
ketidakhadirannya pada hari pelantikan, publik sedang menunggu satu hal yang jauh
lebih penting: penjelasan
tentang bagaimana Jacky Manuputty akan hadir bukan hanya di Istana, tetapi
dalam pergulatan nyata menjaga Indonesia tetap menjadi rumah bersama.
