BGN Didesak Cabut Kemitraan Yayasan Champaca Virginiana akibat gagal lindungi anak sekolah
BGN Didesak Cabut Kemitraan Yayasan Champaca Virginiana akibat gagal lindungi anak sekolah
Berulangnya kasus dugaan keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG), yang terbaru melanda ratusan siswa dan guru SMPN 1 serta SMPN 2 Makale di Tana Toraja, memicu gelombang kritik keras. Badan Gizi Nasional (BGN) dinilai gagap dan terkesan meremehkan nyawa peserta didik dengan hanya memperlakukan insiden ini sebagai statistik kejadian semata.
"BGN harus betul-betul serius dalam menanggapi kejadian keracunan ini. Apresiasi kepada Sudaryono atas tindakan tegasnya, tetapi apakah itu harus berulang selalu?" Ujar Vicky
Pengurus Pusat GMKI mendesak BGN untuk segera menghentikan kebiasaan "pemadam kebakaran" yang baru bergerak setelah jatuh korban. Kasus di Tana Toraja menunjukkan adanya celah sistemik yang parah dalam pengawasan kualitas dan keamanan pangan yang disajikan kepada anak-anak.
"BGN Harus Panggil Mitra dan Evaluasi Total Yayasan, serta mendesak
BGN tidak membuang badan atau melempar kesalahan penuh ke tingkat bawah. BGN harus segera memanggil Yayasan Champaca Virginiana sebagai yang menaungi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Makale Batupapan 1, untuk dimintai pertanggungjawaban penuh—baik secara hukum, finansial, maupun operasional."Lanjutnya Vicky
Tak hanya unit yang bermasalah di Makale, BGN wajib mengaudit dan mengawasi secara ketat seluruh jaringan SPPG lain yang beroperasi di bawah yayasan tersebut. Jika ditemukan kelalaian standar operasional prosedur (SOP) sanitasi dan kelayakan bahan baku, izin kemitraan harus dicabut permanen untuk memberikan efek jera."
Apropriasi Anggaran: Dorong Kejaksaan Usut Potensi Korupsi
Di sisi lain, muncul desakan kuat agar aparat penegak hukum, khususnya Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dan Kejari Tana Toraja, tidak tinggal diam. Kejaksaan diminta turun tangan mengusut tuntas indikasi tindak pidana korupsi yang potensi menjadi akar masalah keracunan berulang ini.
Praktik pemotongan anggaran, penggunaan bahan baku murah tak layak konsumsi demi mengejar margin keuntungan, hingga permainan penunjukan mitra penyedia yang tidak kompeten adalah bentuk korupsi nyata yang langsung mengorbankan keselamatan anak-anak.
"Jika ada permainan anggaran di balik piring makan siswa, Kejaksaan harus menyeret pihak-pihak bertanggung jawab ke meja hijau tanpa kompromi. Anak-anak sekolah bukan ajang eksperimen program, apalagi ladang pengerukan keuntungan. "
BGN dan seluruh pemangku kepentingan dituntut membuktikan komitmen nyata: benahi sistem pengawasan sekarang, atau akui kegagalan dalam menjaga keselamatan generasi mendatang.
