Tanah Dibeli Murah, Martabat Manusia Dipertaruhkan: Kritik terhadap Kapitalisme Eksploitatif dalam Film Dokumenter Pesta Babi
Tanah Dibeli Murah, Martabat Manusia Dipertaruhkan: Kritik terhadap Kapitalisme Eksploitatif dalam Film Dokumenter Pesta Babi
Penulis: Surya Rusung
Ketua Bidang 1 BEM PM STFT Intim Makassar
Tahun 2019-2024 dan 2024-2029 Persekutuan gereja-gereja di Indoensia bukan lagi pada krisis ekologi melainkan masuk pada fase KIAMAT Ekologi. Dalam tahap ini yang dimaksudkan ialah, ekologis selalu dihubungkan dengan tindakan manusia, dan alam sebagai objeknya. Dalam eko-teologis alam dan manusia sama-sama haknya, makanya manusia dan alam harus saling menjaga. Manusiamenjaga alam, agar alam memberikan kehidupan kepada manusia.
Pemikir dari negara asing yakni Edwars Aspinall dan Berensvhot mengatakan bahwa negara Indonesia adalah Negara Demokrasi. Dan Demokrasi itu sendruri menjadi salah satu penyebab Krisis Ekologi. Demokrasi indonesia itu masih bersifat procedural dan Transaksional. Kebijakan Politik dan Ekonomi Indonesia melewati 3 pilar Demokrasi cacat, 1. Sifat Antroposentris 2. Prosedural dan transaksional, 3. Kekuatan modal (kapitalis).
Jika menonton film dokumenter “PESTA BABI: Kolonialisme di Zaman Kita”, kita dapat menyaksikan bagaimana para Kapitalis mempermainkan warga Lokal papua, dengan membeli tanahnya dengan harga -+ 300/Hektar. Menurut saya, ini adalah tindakan Eksploitasi karena memanfaatkan keadaan pemilik tanah yang mungkin lemah, miskin, atau tidak paham nilai tanahnya. Dan juga tindakan Kapitalisme rakus / kapitalisme eksploitatif yang adalah istilah kritik sosial terhadap perilaku mencari keuntungan tanpa mempertimbangkan keadilan. Jika dibandingkan dengan uang kuliah mahasiswa STFT Intim di Makassar, semua mahasiswa bisa membeli banyak hektar tanah. Ini menandakan, kapitalis yang ada di Papua telah mencoreng harga diri bagi warga lokal papua. Mereka dibayar dengan harga rendah untuk mereka yang akan mendapatkan pendapatan ratusan juta bahkan lebih.
Presiden Prabowo sewaktu menjabat menjadi Menteri Pertahanan (2019-2024), pernah membuat program Food Estate, tapi gagal. Setelah menjadi Presiden, Prabowo kembali membuat program tersebut dengan menambahkan jumlah produksi dan lahn. Dalam hal ini apakah kita masi bisa mempercayai untuk berhasil? Sedangkan pada masa lampau dengan jumlah yang lebih sedikit saja yang dikerjakan tidak berhasil, apalagi mau menambahkan lahan produksinya.
mengapa dalam video dokumenter mengatakan Gereja-gereja lokal yang ada di dekat eksploitasi tanah tersebut tidak mendukung warga lokal dalam pergerakan peralwanan, saya mengatakan bahwa ada 2 yang muncul dalam kacamata kecurigaan saya. Yang pertama, mereka takut dalam pergerakan intimidasi ataukah mereka dibayar untuk diam.
Akhir-akhir ini juga kita dikejutkan dengan pengakuan Mama Yasinta yang adalah salah-satu Tokoh dalam film dokumenter tersebut, yang mengatakan “saya tidak mengetahui apa-apa dalam penyebaran film tersebut. Tidak ada izin, dan tidak ada pemberitahuan sama sekali kepada saya” ujar Mama Yasinta yang di upload dalam satu akun media sosial Instagram. Menurut saya, ini adalah film dokumenter, jika produksi dokumenter ini membayar para Tokoh yang ada, maka film dokumenter ini akan kehilangan moralnya. Maksud saya, jika para Tokoh dibayar, maka para Tokoh tidak lagi berbicara atas hati nuraninya sendiri, melainkan berbicara karena adanya bayaran. Karena menurut Imanuel Kant, Sesuatu yang dikatakan bermoral adalah, ketika kita melakukan suatu hal tanpa memikirkan apa yang kita harus dapatkan dari perlakuan tersebut. Dan juga, keyakinan saya berpikir bahwa Mama Yasinta mendapatkan ancaman atau sogokan agar mengatakan hal demikian. Keyakinan saya jga mengatakan ini adalah permainan para penguasa, untuk mencoba mencuci otak para penonton film dokumenter ini, dan kita terhasut untuk berpihak kepada yang salah.
Salah satu kritikan saya juga terhadap para militer yang ada di papua. Yang dalam pengakuan warga lokal dalam film dokumenter pesta babi selalu mendapatkan kekerasan dan pemaksaan. Bagiku, kembalikan Militer ke barak. Biarkan warga papua bisa hidup sesuai haknya untuk melindungi tanah adat mereka dan bekerja tanpa ada ikut campur dari militer.
Untungnya, dalam diskusi dan pemutaran film dokumenter Pesta Babi yang dilakukan di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Indonesia Timur Di Makassar, tidak terjadi pembubaran. Jika hal itu terjadi maka, saya selaku Ketua Bidang 1 Badan Eksekutif Mahasiswa Persekutuan Mahasiswa STFT Intim di Makassar, menjadi garda terdepan untuk melawan tindakan-tindakan yang membuat Mahasiswa tidak melakukan haknya untuk bersuara dan terus mengembangkan pengetahuannya terhadap negara tercinta ini.
