BREAKING NEWS

Penangkapan Ikan Sapu-sapu: Pembersihan Hama di Sungai atau Pengalihan Isu?

 Penangkapan Ikan Sapu-sapu: Pembersihan Hama di Sungai atau Pengalihan Isu?

Monster Sungai atau Korban Keserakahan Manusia

Pernahkah kamu melihat ikan sapu-sapu yang menghitam di sungai-sungai kotor kota kita? Belakangan ini, ikan tersebut di buru besar-besaran karena di anggap sebagai "hama perusak ekonsistem. 


Benarkan ikan ini merupakan penjahat yang merusak sungai? Atau manusia sedang mencari kambing hitam untuk menutupi dosa besar yang mereka lakukan sendiri. 


Pada April 2026, Pemerintah Jakarta mengarahkan ratusan petugas untuk memburu ikan sapu-sapu di berbagai sungai. Dalam 1 hari saja, hampir 7 ton ikan do tangkap dan di angkut ke darat. 


Alasan terdengar masuk akal: ikan ini di anggap telah menjajah sungai, menjajah 60% populasi air, dan memusnahkan ikan-ikan asli lokal sehingga di vonis sebagai hama yang harus dibasmi. 


Pemerintah menuduh ikan sapu-sapu sebagai penyebab hilangnya ikan lain asli sungai. Tapi mari kita buka mata pada fakta yang lebih besar. Ikan-ikan lokal mati dan punah bukan karena di makan oleh ikan sapu-sapu. Mareka mati karena air sungai kita telah berubah menjadi racun mematikan akibat tumpahan limbah pabrik, logam berat, deterjen, dan sampah rumah tangga yang di buang setiap detik. 


Lalu kenapa hanya ikan sapu-sapu yang tersisa dan berkembang biak sangat banyak? Jawabannya bukan karena mereka penjajah, tetapi karena mereka memiliki organ khusus yang membuat mereka tetap bisa bernapas meskipun air sungai sudah tidak memiliki oksigen dan penuh dengan logam berat. 


Keberadaan ikan sapu-sapu yang membeludak sebenarnya bukanlah sebuah invasi, melainkan sebuah peringatan keras dari alam. Kehadiran mereka menjadi tanda bahwa sungai tersebut sudah tidak sehat. Jika hanya makhluk berlapis baja ini yang bisa hidup di sana, bayangkan betapa beracunnya air tersebut bagi tubuh manusia jika kita menggunakannya.

Menyebut ikan sapu-sapu sebagai hama adalah bukti kesombongan manusia. Kita yang meracuni rumah mereka, kita yang menghancurkan ekosistemnya, ketika mereka bertahan hidup, manusia malah memburu dan menyalahkan mereka. Hewan saja bisa di jadikan sebagai korban akibat keserahakan manusia dan lemahnya penegakan hukum di negeri ini. 


Membersihkan sungai tidak akan pernah selesai jika kita hanya memburu ikannya, sementara keran racunnya di biarkan terus mengalir. 


Oleh: Steven Leonardin Taneo

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image