BREAKING NEWS

MENYINGKAP TABIR DAN MEMATAHKAN KUK MELALUI ASIAN ECUMENICAL YOUTH ASSEMBLY (AEYA) 2026

 MENYINGKAP TABIR DAN MEMATAHKAN KUK MELALUI ASIAN ECUMENICAL YOUTH ASSEMBLY (AEYA) 2026

‘Bukan! Puasa yang Kukehendaki ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk’ (Yesaya 58:6)

Demikianlah tema besar yang diangkat di acara Asian Ecumenical Youth Assembly (AEYA) yang dilaksanakan di Chiang Mai, Thailand pada tanggal 17-21 April 2026. Acara yang diselenggarakan oleh Christian Conference of Asia ini mengumpulkan setiap kawula muda-mudi dari pelbagai negara di Asia-Pacific untuk bertemu dan berbagi cerita serta isi kepala tentang pelayanan, ke-Kristenan, serta pergumulan yang dihadapi melalui beberapa sesi yakni: Plenary Session, Bible Studies, Local Church Visit dan Youth in Dialogue

Dengan berbagai latar sosial yang berbeda serta kuk pribadi yang dibawa menuju Chiang Mai, segala sesi rasanya melepas belenggu yang masih terpatri baik secara individu maupun secara kelompok. Salah satu materi Plenary Session yang cukup memugar pemikiran saya adalah ‘When Faith Under the Yoke, Affirm Identity in Christ’ yang dibawakan oleh Rev. Dr. Jennifer Pelupessy - Wowor. Secara konteks biblika, ‘kuk’ bisa digambarkan sebagai beban, penindasan, serta perbudakan. Namun untuk menjadi relevan di masa sekarang ‘kuk’ dapat diartikan sebagai ketidakadilan yang struktural, perbudakan modern melalui jam kerja atau upah yang dibawah aturan ketenagakerjaan, ehidupan sosial yang meninggalkan keugaharian dan juga ekspektasi terhadap karir.

Menyingkap tabir dalam konteks "When Faith Under the Yoke, Affirm Identity in Christ" berarti sebuah proses penyingkapan keberanian untuk melihat melampaui penderitaan yang tampak di permukaan. Meneguhkan identitas di dalam Kristus di tengah "kuk" adalah sebuah tindakan cross-culture yang radikal. Di saat dunia mendefinisikan martabat manusia berdasarkan produktivitas, kekuatan ekonomi, atau kepatuhan buta pada sistem yang tidak adil, identitas Kristiani justru berpijak pada nilai-nilai Kerajaan Allah yang menjungkirbalikkan logika tersebut.

Dalam sesi Youth in Dialogue, ada 2 (dua) tema yang saya pilih dan kemudian menyegarkan dahaga kehidupan saya. Sesi pertama di tema Mental Health mempertanyakan mengapa acap kali individu di tengah komunitas oikumenis atau pelayanan gerejawi seringkali menyembunyikan isu gangguan mental yang dihadapi. Tentu fear of rejection dan komunitas yang tends to judge menjadi variabel utama. Padahal sejatinya Gereja tidak sempit pemaknaannya pada tempat beribadah, namun tempat berobat bagi mereka atau bahkan kita yang berbeban berat dan lelah hatinya.

Human Rights sebagai tema kedua yang saya pilih di sesi Youth in Dialogue juga memperluas cakrawala pengetahuan saya terkait persekusi terhadap umat Kristen yang menjadi minoritas di negaranya. Pergumulan yang kita pegang sebagai Warga Negara Indonesia dengan agama Kristen tidak pernah lepas dari penolakan dan diskriminasi. Hal yang sama ternyata terjadi di India dan Malaysia juga. Selain hak beribadah dan memeluk agama, ketidakadilan struktural terhadap hak atas pendidikan hingga permasalahan gender masih menjadi isu di berbagai negara. Kemerdekaan individu nampaknya masih menjadi pergumulan di ranah regional Asia-Pacific.

Dewasa ini, kehidupan sosial yang meninggalkan keugaharian dan memuja individualisme, kehadiran saya di sana adalah upaya counter-culture untuk menyingkap tabir isolasi mandiri. Dengan meneguhkan identitas dalam Kristus, kita tidak lagi menggunakan modal sosial untuk kepentingan elit, melainkan mengubahnya menjadi instrumen solidaritas yang ugahari; sebuah jejaring kepercayaan yang berkomitmen melepaskan tali-tali belenggu sesama dan me ghadirkan kemerdekaan sejati bagi mereka yang terpinggirkan. Asia Ecumenical Youth Assembly 2026 menjadi bukti nyata bagaimana teori social capital dapat menjadi kekuatan transformatif jika berakar pada identitas Kristus yang radikal. Dalam pertemuan ini, saya merasakan adanya pergeseran dari sekadar bonding social capital (ikatan internal kelompok) menuju bridging social capital—sebuah jaringan lintas budaya dan denominasi yang melampaui sekat-sekat primordial.

Melalui setiap percakapan, setiap materi, setiap kidung yang diangkat, dapat disimpulkan ada 2 hal dalam dunia ini yang jika dibagi-bagi sebanyak apapun, tidak akan pernah habis. Ya, hal itu adalah kasih dan ilmu.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image