JEJAK MATAHARI DARI TIMUR: Dari Beasiswa, Renovasi Tugu Perahu Injil, Hingga Lampu Salib Bia Triton yang Menyala Kembali Setelah 20 Tahun
0 menit baca
JEJAK MATAHARI DARI TIMUR: Dari Beasiswa, Renovasi Tugu Perahu Injil, Hingga Lampu Salib Bia Triton yang Menyala Kembali Setelah 20 Tahun
JAYAPURA, Mimbar Muda News– Di tengah derap pembangunan fisik yang kian masif di Bumi Cendrawasih, terselip sebuah narasi tentang keteguhan iman, pengabdian tanpa pamrih, dan simbol terang yang kembali bersinar. Dua peristiwa besar baru-baru ini menyoroti Kampung Wadibu, Kabupaten Biak Numfor, Papua: pertama, aksi nyata Pdt. Drs. Habel Koibur, S.Th. melalui program beasiswa dan renovasi Tugu Perahu Injil; kedua, menyala kembali lampu balon di atas Salib Bia Triton yang telah padam selama 20 tahun.
Kedua peristiwa ini tidak hanya menjadi catatan sejarah lokal, tetapi juga menegaskan bahwa Papua sedang menulis ulang masa depannya dengan memadukan infrastruktur, pendidikan, spiritualitas, dan pelestarian identitas.
Dedikasi Pdt. Habel Koibur: Beasiswa, Renovasi Tugu, dan Kepedulian Sosial
Pdt. Drs. Habel Koibur, S.Th. saat ini menjabat sebagai Ketua Bidang XXXII Revitalisasi Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Se-Indonesia (ABP-PTSI) Wilayah Papua dan Papua Barat berdasarkan Surat Keputusan No. 19-029/ABP-PTSI/III/2023 yang ditandatangani oleh Ketua Umum ABP-PTSI, Prof. Dr. Thomas Suyatno.
Dalam momentum reflektif yang baru-baru ini terjadi, Pdt. Habel Koibur meresmikan renovasi Tugu Perahu Injil di Kampung Wadibu – sebuah situs bersejarah yang menjadi simbol masuknya peradaban dan nilai-nilai kemanusiaan di tanah Papua. Tugu ini memiliki sejarah panjang sejak 20 September 1913. Namun, setelah 23 tahun berdiri, tugu tersebut mulai tak terawat. Pdt. Habel melihat bahwa membiarkan tugu terbengkalai sama dengan membiarkan identitas anak cucu Papua memudar.
"Kami merenovasi dan memugar tugu ini karena ia memiliki nilai strategis, tidak hanya sebagai simbol iman tetapi juga sebagai potensi wisata rohani," ungkap Pdt. Habel.
Motivasinya jelas: membangkitkan pemahaman baru bagi warga jemaat dan masyarakat Papua luas agar mengenal jati diri mereka – bahwa keberadaan masyarakat Papua saat ini tidak bisa dilepaskan dari peran besar Injil yang membawa perubahan dari kegelapan menuju terang sejak tahun 1855.
Wujud Kepedulian Nyata ketika 9 anak di Kampung Wadibu menerima beasiswa pendidikan. Serta 8 kepala keluarga menerima bantuan sembako. Tindakan ini menegaskan posisi Pdt. Habel sebagai pelayan masyarakat yang holistik. Ia memahami bahwa pendidikan adalah kunci menyongsong Indonesia Emas 2045, sekaligus menanam benih pemimpin masa depan yang cerdas intelektual dan religius.
Visi Besar: Menjadikan Situs Religi sebagai Aset Bangsa
Pdt. Habel mendorong agar situs-situs religi seperti Tugu Perahu Injil dirawat menjadi aset wisata rohani yang dapat dikunjungi dari seluruh Indonesia. Baginya, mengenal sejarah masuknya nilai-nilai kebaikan akan membuat masyarakat lebih menghargai perdamaian dan persaudaraan. "Injil adalah kekuatan Allah yang membawa perubahan," ujarnya.
Lampu Salib Bia Triton Menyala Kembali: Kompas Bagi Pelaut di Malam Hari
Dalam waktu yang hampir bersamaan, sebuah peristiwa simbolis terjadi di kawasan kepulauan Biak. Lampu balon yang dipasang di atas Salib Bia Triton yang telah padam selama 20 tahun kini kembali menyala. Salib tersebut berada di situs Bia Triton, yang selama ini dikenal sebagai simbol panggilan untuk beribadah bagi masyarakat setempat.
Nyala lampu di atas Salib Bia Triton dimaknai sebagai simbol menerangi dunia yang gelap. Letaknya yang strategis di atas bukit dekat pantai menjadikannya kompas (pemandu) di waktu malam bagi para pelaut di kawasan kepulauan, terutama yang mengarah ke: Samudra Pasifik, Kepulauan Padaido, Biak Timur, Kabupaten Biak Numfor, Pulau Numfor
Selain lampu di Salib Bia Triton, sejumlah penerangan lain juga dilaporkan terpasang: 2 lampu sorot dan 2 lampu taman di situs perahu (Tugu Injil Perahu) lokasi penyambutan Guru Penginjil.
Lampu jalan di sekitar area.
Informasi mengenai nyalanya lampu-lampu ini baru diterima pada sore hingga malam hari melalui pesan WhatsApp (WA) yang dikirim oleh dua orang penduduk asli Wadibu, yaitu Bapak Barwef dan Bapak Bepup. Mereka menyampaikan bahwa lampu Salib yang telah padam dua dekade kini bersinar terang, bersamaan dengan menyala-nyala lampu sorot, lampu taman di situs perahu, dan lampu jalan.
Pemasangan lampu balon dan penerangan lainnya diharapkan tidak hanya mengembalikan fungsi spiritual dan historis situs Bia Triton, tetapi juga meningkatkan keselamatan navigasi pelaut tradisional yang melintasi perairan timur Indonesia menuju Pasifik.
Harmoni Antara Spiritualitas, Sejarah, dan Masa Depan Papua
Apa yang dilakukan Pdt. Habel Koibur dan masyarakat Kampung Wadibu menunjukkan satu benang merah: terang tidak hanya datang dari lampu, tetapi juga dari keteladanan, pendidikan, dan pemeliharaan sejarah. Pdt. Habel memilih jalan sunyi melalui kerja-kerja kebudayaan, pendidikan, dan spiritualitas. Ia mengajarkan bahwa kemajuan sebuah daerah harus berjalan beriringan dengan pemeliharaan nilai-nilai lama yang baik.
Papua memang butuh infrastruktur, tetapi Papua jauh lebih butuh manusia-manusia berhati mulia seperti Pdt. Habel Koibur – mereka yang bekerja dalam diam untuk memastikan bahwa "Terang" di Bumi Cendrawasih tidak akan pernah padam oleh pusaran zaman.
Pdt. Habel Koibur bukan hanya sebagai tokoh agama seorang Pendeta EMERITUS tetapi sebagai pahlawan kemanusiaan dari ufuk Timur Indonesia.
Penulis: Wawancara Langsung Tim Redaksi Mimbar Muda
News dengan Pdt. Drs. Habel Koibur, S.Th



