Paskah Kedua:Dari Yahudi ke GMIT
Memaknai Paskah Kedua: Dari Tradisi Yahudi ke GMIT
Rio Rocky Hermanus, S.Fil., M.Th
Kita sering mendengar tentang Paskah. Tapi tahukah Anda tentang "Paskah Kedua"? Dalam tradisi Yahudi, ada yang namanya Pesach Sheni—Paskah yang dirayakan sebulan setelah Paskah biasa. Ini diberikan bagi mereka yang tidak bisa merayakan tepat waktu karena sedang kotor secara ritual atau sedang dalam perjalanan jauh.
Tradisi Yahudi meyakini sesuatu yang luar biasa: dengan memanfaatkan Paskah Kedua, masa lalu seseorang bisa berubah. Catatan "tidak hadir" berubah menjadi "hadir". Ini adalah keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah menutup pintu selama hati masih mau kembali.
Dalam konteks bangsa Israel ada orang-orang yang tidak bisa mempersembahkan korban Paskah pada waktunya. Mereka datang kepada Nabi Musa dengan hati hancur, bertanya, "Mengapa kami dikurangi?" Tangisan mereka didengar Tuhan. Lalu lahirlah peraturan tentang Paskah Kedua.
Dalam tradisi Yahudi, syukur Paskah Kedua adalah syukur karena Tuhan mendengar ratapan orang yang terpinggirkan. Ini mengajarkan bahwa tidak ada yang terlambat untuk kembali. Selama napas masih ada, kesempatan masih terbuka.
Dalam Tradisi Kristen Katolik: Minggu Kerahiman Ilahi
Dalam Gereja Katolik, Paskah Kedua dikenal sebagai Minggu Kerahiman Ilahi. Kisahnya diambil dari Injil Yohanes pasal 20. Setelah Yesus bangkit, para murid ketakutan dan mengunci pintu. Yesus datang, berdiri di tengah mereka, dan berkata, "Damai sejahtera bagi kamu."
Kemudian Yesus memberi kuasa untuk mengampuni dosa. Di sinilah syukur itu muncul: bukan hanya karena Yesus bangkit, tetapi karena Ia memberi kuasa kepada manusia biasa untuk saling memaafkan.
Syukur Paskah Kedua dalam tradisi Katolik adalah syukur yang terus bergerak. Kita bersyukur bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi lalu keluar memaafkan orang lain. Damai yang diterima harus dibagikan.
Dalam GMIT: Syukur yang Ditanam dan Dirawat
Lalu bagaimana dengan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT)? Di sinilah hal menarik terjadi. GMIT memiliki cara unik merayakan Paskah Kedua. Mereka biasa menyebutnya "Senin Terang", hari setelah Minggu Paskah. Tapi yang paling khas adalah tradisi aksi tanam.
Dalam perayaan Paskah Kedua, setiap keluarga GMIT diberi anakan tanaman. Mereka menanamnya di sekitar salib, lalu harus merawat sampai tumbuh besar. Ada telur Paskah dan kain putih sebagai simbol pengharapan. Tapi intinya: syukur tidak cukup diucapkan. Syukur harus ditanam dan dirawat.
Pdt. Samuel Pandie, Ketua Sinode GMIT, pernah berkata bahwa Paskah adalah panggilan untuk keluar dari zona nyaman. Yesus menghancurkan batu kubur, maka kita pun harus berdiri melawan sistem yang menindas, berdiri bersama yang lemah.
Bahkan pemuda GMIT di Kupang mengusung tema "Damai dari NTT untuk Indonesia". Mereka menggunakan Paskah Kedua untuk melawan hoaks, membangun perdamaian, dan menolak perdagangan manusia.
Jadi syukur Paskah Kedua versi GMIT adalah syukur yang menanam, merawat, dan melawan. Menanam anakan sebagai tanda ikut memulihkan alam. Merawatnya sebagai tanda tanggung jawab. Melawan ketidakadilan sebagai tanda iman yang hidup.
Kita sudah belajar bahwa dalam tradisi GMIT, Paskah Kedua dirayakan dengan aksi tanam—menanam anakan dan merawatnya sampai tumbuh. Tapi apa dasar Alkitabiah dari semangat ini? Hari ini, GMIT membaca Kitab Kolose 3:1-17. Di sinilah kita menemukan jawabannya: Paskah Kedua adalah tentang menjadi manusia baru.
Bacaan GMIT hari ini Senin 6 April 2026 didalam TTDK (tunas dari tanah kering) mengajarkan bahwa dalam hidup, ada dua jenis karakter manusia. Pertama, orang yang tidak pernah berubah—baik selamanya baik, buruk selamanya buruk. Kedua, orang yang labil, kadang baik kadang buruk. Tetapi yang menarik adalah ketika seseorang tiba-tiba berubah drastis. Misalnya, orang yang dulu pemarah, kasar, suka memukul, sekarang menjadi lembut dan damai. Orang pasti bertanya: apa yang terjadi?
Paulus menjawab: kebangkitan Kristus adalah alasannya. Karena Kristus bangkit, kita yang berdosa dan layak mati, sekarang ditebus dan mendapat hidup kekal. Inilah inti Paskah Kedua versi GMIT: kebangkitan bukan sekadar peristiwa dua ribu tahun lalu, tetapi dasar untuk berubah hari ini.
Enam Tanda Manusia Baru
Dalam Kolose 3, Paulus memberikan enam hal yang harus kita lakukan sebagai wujud syukur atas kebangkitan Kristus. Inilah “Paskah Kedua” dalam praktik sehari-h-hari:
Pertama, mencari dan memikirkan hal-hal di atas. Selama ini, pikiran kita sibuk dengan keinginan diri sendiri. Kita mencari kesia-siaan. Yesus pernah berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan.” Paskah Kedua mengajak kita mengalihkan pandangan dari dunia ke Kristus yang duduk di sebelah kanan Allah.
Kedua, mematikan segala tindakan duniawi. Ini berarti menanggalkan manusia lama. Salah satu bentuk manusia lama yang paling berbahaya adalah sikap membeda-bedakan orang. Di mata Tuhan, semua orang sama—semua diselamatkan oleh Kristus. Paskah Kedua GMIT mengingatkan kita untuk tidak lagi memandang orang dari suku, status, atau agama.
Ketiga, mengenakan perbuatan baik. Sebagai ganti manusia lama, kita hidup seperti orang-orang pilihan Allah: penuh kasih, kerendahan hati, dan saling mengampuni. Di sinilah aksi tanam menjadi simbol: kita “menanam” kebaikan setiap hari.
Keempat, menjadikan kasih agape sebagai pengikat persekutuan. Kasih bukan perasaan, tetapi tali yang mengikat kita dengan sesama. Di keluarga, di tempat kerja, di alam mana pun, kasihlah yang memampukan kita melakukan segalanya.
Kelima, membiarkan damai sejahtera Kristus memerintah hati. Bukan damai menurut dunia, tetapi damai yang lahir dari keyakinan bahwa Kristus sudah bangkit. Perkataan Kristus yang mengatur pikiran, perkataan, dan perbuatan kita.
Keenam, melakukan segala sesuatu dalam nama Yesus sambil mengucap syukur. Ini penting untuk evaluasi diri: sejauh mana Kristus benar-benar tinggal di dalam kita? Apakah kita sudah menjadi manusia baru?
Paskah Kedua Adalah Proses, Bukan Sekali Jadi
Dalam pemahaman GMIT, Paskah Kedua mengakui bahwa menjadi manusia baru tidak terjadi instan. Sama seperti anakan yang ditanam butuh waktu dan perawatan untuk tumbuh, demikian juga iman kita. Kita boleh gagal, boleh jatuh lagi ke dalam dosa. Tapi Paskah Kedua mengajarkan: selalu ada kesempatan lagi. Selalu ada waktu untuk menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru.
Maka, rayakanlah Paskah Kedua. Tanamlah kebaikan. Rawatlah iman. Dan setiap kali gagal, ingatlah bahwa Tuhan selalu memberi waktu lagi. Karena pada akhirnya, manusia baru bukanlah manusia yang sempurna, melainkan manusia yang terus bertumbuh dalam kasih anugerah Allah.
Apa Artinya Bagi Kita?,
Paskah Kedua mengajarkan bahwa Tuhan tidak pernah menghapus nama kita hanya karena kita datang belakangan. Sebaliknya, Tuhan justru berjalan ke belakang mencari kita.
Bagi kita yang merasa gagal, yang merasa terlalu berdosa, yang merasa sudah terlambat untuk memulai lagi inilah kabar baik. Selalu ada Paskah kedua. Selalu ada kesempatan baru.
Tapi kesempatan itu tidak boleh disia-siakan. Seperti aksi tanam GMIT, kita harus merawat kesempatan itu hingga tumbuh menjadi perbuatan nyata. Bisa dengan memberi maaf pada orang yang menyakiti kita. Bisa dengan berbuat adil pada yang lemah. Bisa dengan menjaga lingkungan.
Pada akhirnya, Paskah sejati bukan tentang seberapa cepat kita sampai. Melainkan tentang seberapa setia Tuhan menunggu, dan seberapa sungguh kita memanfaatkan waktu yang masih diberikan.
Maka, rayakanlah Paskah Kedua. Dalam hati, dalam tindakan, dalam setiap napas yang masih Tuhan berikan. Karena setiap hari sebenarnya adalah Paskah kedua. Setiap pagi adalah kebangkitan kecil dari kegagalan semalam.
