BREAKING NEWS

Ketika Pemimpin Hanya Mengurus Diri Sendiri (Renungan Yehezkiel 34:1-16)

 Ketika Pemimpin Hanya Mengurus Diri Sendiri (Renungan Yehezkiel 34:1-16)


Oleh: Teguh Lamentur Takalapeta, M.Fil

Tidak semua pemimpin hadir untuk melayani. Ada yang justru sibuk mengurus diri sendiri, memperkuat kelompoknya, dan menikmati jabatan, sementara rakyat dibiarkan lemah, terluka, dan kehilangan arah. Situasi seperti ini ternyata sudah lama dikritik Alkitab, khususnya dalam Yehezkiel 34:1–16.

Dalam bagian ini, nabi Yehezkiel memakai gambaran yang sangat sederhana: gembala dan domba. Gembala adalah para pemimpin. Domba adalah rakyat. Tugas gembala jelas: menjaga, merawat, melindungi, dan memastikan kawanan tetap hidup. Tetapi yang terjadi dalam teks ini justru kebalikannya. Para gembala Israel hanya memikirkan diri sendiri. Mereka menikmati hasil dari kawanan, tetapi tidak sungguh-sungguh menggembalakan.

Tuhan, melalui Yehezkiel, menyampaikan teguran keras. Para pemimpin itu memakan yang terbaik, memakai bulu domba, dan mengambil keuntungan dari kawanan. Namun mereka tidak menguatkan yang lemah, tidak mengobati yang sakit, tidak membalut yang terluka, tidak mencari yang hilang, dan tidak membawa pulang yang tersesat. Ini bukan sekadar kritik moral biasa. Ini adalah tuduhan serius terhadap kepemimpinan yang rusak.

Yang menarik, dosa para pemimpin di sini bukan hanya karena mereka berbuat salah secara langsung. Mereka juga bersalah karena membiarkan orang kecil tetap menderita. Mereka tidak hadir saat rakyat membutuhkan perlindungan. Mereka tidak menolong saat rakyat terluka. Mereka tidak mencari saat rakyat tersesat. Dengan kata lain, mereka gagal menjalankan inti kepemimpinan: menjaga kehidupan.

Di sinilah pembacaan ideologis menjadi penting. Tafsir ideologis membantu kita melihat bahwa persoalan dalam teks ini bukan hanya soal sifat buruk beberapa orang, melainkan soal cara kerja kekuasaan. Kuasa dipakai bukan untuk melayani, melainkan untuk menguntungkan diri sendiri. Jabatan tidak lagi menjadi tanggung jawab, tetapi berubah menjadi alat untuk menikmati hasil dari mereka yang dipimpin.

Kalau kekuasaan bekerja dengan cara seperti itu, rakyat selalu menjadi korban. Yang lemah tetap lemah. Yang sakit tetap tidak tertolong. Yang terluka tetap tidak dipedulikan. Yang hilang tidak dicari. Akibatnya, rakyat tercerai-berai dan menjadi mangsa. Gambaran ini sangat kuat, karena menunjukkan bahwa pemimpin yang gagal bukan hanya merusak dirinya sendiri, tetapi juga menghancurkan kehidupan bersama.

Karena itu, Yehezkiel 34 sesungguhnya adalah kritik terhadap ideologi kekuasaan yang rakus. Para pemimpin menganggap rakyat sebagai sumber keuntungan, bukan sebagai manusia yang harus dijaga martabatnya. Mereka berdiri di atas penderitaan orang lain. Mereka kuat karena yang lemah tidak dibela. Mereka nyaman karena yang kecil dibiarkan berjuang sendiri.


Di tengah situasi itu, Tuhan berkata dengan sangat tegas: Aku melawan para gembala itu. Ini bagian yang amat penting. Allah dalam teks ini tidak netral. Ia tidak otomatis membela pemimpin hanya karena mereka punya jabatan atau kedudukan keagamaan. Sebaliknya, Allah berdiri menentang kekuasaan yang menindas dan membela mereka yang terlantar.

Pesan ini tajam sekali untuk zaman sekarang. Sering kali masyarakat dibentuk untuk berpikir bahwa pemimpin tidak boleh dikritik. Kadang-kadang bahasa agama pun dipakai untuk melindungi kekuasaan. Padahal, menurut Yehezkiel, justru Tuhan sendiri dapat menjadi lawan pemimpin yang tidak adil. Jadi, ukuran kepemimpinan di hadapan Tuhan bukanlah jabatan tinggi, simbol kehormatan, atau banyaknya pengikut. Ukurannya adalah apakah rakyat sungguh dirawat.

Sesudah teguran keras itu, teks bergerak ke arah pengharapan. Tuhan berkata bahwa Ia sendiri akan mencari domba-domba-Nya. Ia akan mengumpulkan yang tercerai-berai, membawa mereka ke padang rumput yang baik, memberi mereka makan, membaringkan mereka dengan aman, mencari yang hilang, membawa pulang yang tersesat, membalut yang luka, dan menguatkan yang lemah.

Di sini kita melihat perbedaan yang sangat jelas antara pemimpin yang rakus dan Allah sebagai gembala sejati. Pemimpin yang rusak mengambil dari domba. Allah justru memberi kepada domba. Pemimpin yang rusak membiarkan rakyat terlantar. Allah justru turun tangan memulihkan mereka. Artinya, kuasa yang benar bukanlah kuasa yang menekan, melainkan kuasa yang merawat.

Inilah inti penting dari perspektif ideologis atas Yehezkiel 34: Allah berpihak kepada mereka yang lemah, sakit, terluka, tersesat, dan hilang. Dengan kata lain, iman tidak bisa dipisahkan dari keadilan sosial. Orang tidak bisa mengaku dekat dengan Tuhan tetapi membiarkan sesama hidup tanpa perlindungan. Tuhan yang digambarkan Yehezkiel bukan Tuhan yang membenarkan penindasan, melainkan Tuhan yang membongkar dan mengoreksinya.

Bagian ini menjadi sangat relevan bila dibawa ke konteks kehidupan kita sekarang, termasuk di NTT. Kita masih bergumul dengan banyak persoalan nyata: kemiskinan, kesenjangan, pendidikan, layanan kesehatan, kekeringan di sejumlah wilayah, pengangguran, dan lemahnya perlindungan terhadap kelompok rentan. Dalam situasi seperti ini, rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang sibuk membangun citra. Rakyat membutuhkan pemimpin yang hadir, mendengar, dan bekerja nyata.


Yehezkiel 34 mengingatkan bahwa pemimpin yang baik bukan pertama-tama yang pandai berpidato, melainkan yang peduli pada yang lemah. Bukan yang sibuk menjaga popularitas, tetapi yang mau turun melihat luka rakyat. Bukan yang memakai jabatan untuk menumpuk kenyamanan, tetapi yang mengerti bahwa kuasa adalah amanat untuk melayani.

Pesan ini juga penting untuk gereja. Gereja tidak boleh hanya sibuk mengurus dirinya sendiri, gedungnya, strukturnya, atau kehormatannya. Gereja dipanggil menjadi tanda kehadiran Allah yang mencari yang hilang, memulihkan yang luka, dan menguatkan yang lemah. Bila gereja jauh dari penderitaan rakyat, maka gereja sedang menjauh dari model penggembalaan Allah sendiri.

Karena itu, Yehezkiel 34 seharusnya menjadi cermin bagi siapa saja yang memegang kuasa: pejabat publik, tokoh masyarakat, pemimpin adat, pemimpin gereja, bahkan kepala keluarga. Pertanyaannya sederhana tetapi sangat mendasar: apakah kuasa yang ada dipakai untuk merawat, atau justru untuk menikmati hasil dari mereka yang lemah?

Pada akhirnya, teks ini menyampaikan dua hal sekaligus. Pertama, Tuhan menolak pemimpin yang rakus dan menindas. Kedua, Tuhan tidak meninggalkan rakyat yang terluka. Ia datang sebagai gembala yang mencari, merawat, dan memulihkan. Itu sebabnya, Yehezkiel 34 bukan hanya teguran bagi para pemimpin, tetapi juga penghiburan bagi rakyat kecil: Tuhan melihat, Tuhan tahu, dan Tuhan tidak tinggal diam.

Kalau pesan ini sungguh dihidupi, maka jabatan tidak lagi menjadi alat eksploitasi, melainkan sarana pelayanan. Kuasa tidak lagi dipakai untuk meninggikan diri, tetapi untuk menguatkan yang lemah. Dan di situlah kepemimpinan menjadi berkat, bukan beban.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image