Ketika Kasih Lebih Besar dari Rasa Sakit: Salib sebagai Ikon, Bukan Idol Rasa Haru (Merenungkan Jumat Agung bersama Jean-Luc Marion)
Oleh: Teguh Lamentur Takalapeta, M.Fil
Setiap Jumat Agung, gereja kembali berdiri di bawah bayang-bayang salib. Kita membaca kisah sengsara Yesus, mendengar jeritan-Nya, merenungkan luka-luka-Nya, lalu membiarkan hati kita disentuh oleh penderitaan-Nya. Karena itu, tema “Kasih Tuhan Lebih Besar dari Rasa Sakit-Nya” terasa sangat kuat. Tema ini menolong jemaat melihat bahwa salib bukan hanya kisah siksaan, tetapi kisah kasih yang tidak mundur di hadapan luka.
Namun, justru karena tema ini sangat menyentuh, kita perlu membacanya lebih dalam. Sebab ada bahaya halus dalam pengalaman religius: salib bisa berhenti sebagai objek rasa haru. Kita terharu, menangis, kagum pada kasih Yesus, tetapi setelah ibadah selesai, hidup kita tidak berubah. Kita memandang salib, tetapi tidak sungguh-sungguh membiarkan salib berbicara ke hidup kita. Di sinilah pemikiran Jean-Luc Marion, filsuf-teolog Prancis dalam God Without Being, memberi koreksi penting.
Marion membedakan idol dan ikon. Dalam pengertian biasa, idol sering dipahami sebagai berhala. Tetapi bagi Marion, idol lebih luas: ia adalah segala sesuatu yang memuaskan pandangan manusia dan berhenti di sana. Ia tampak religius, bahkan suci, tetapi diam-diam hanya memantulkan kebutuhan rohani manusia sendiri. Sebaliknya, ikon tidak berhenti pada dirinya. Ikon membuka manusia kepada yang melampaui dirinya. Ikon tidak hanya dipandang; ia juga “memandang balik.” Ia tidak membuat manusia merasa cukup, tetapi justru mengguncang dan memanggil.
Kalau kerangka ini dipakai, maka Jumat Agung menyimpan dua kemungkinan. Salib bisa menjadi ikon kasih, tetapi juga bisa direduksi menjadi idol rasa haru. Ia menjadi ikon ketika melalui luka Kristus kita sungguh dihadapkan pada kasih Allah yang memberi diri, sehingga kita tidak bisa lagi hidup seperti sebelumnya. Tetapi ia menjadi idol ketika yang tersisa hanya efek emosional: kita tersentuh, tetapi tidak berubah; kita kagum, tetapi tidak bertobat; kita menangis, tetapi tidak belajar mengasihi.
Di sinilah tema “Kasih Tuhan Lebih Besar dari Rasa Sakit-Nya” perlu diperdalam. Tema ini benar, tetapi jangan dibaca terlalu dangkal, seolah-olah Jumat Agung hanya mau mengatakan bahwa Yesus sangat sakit, tetapi kasih-Nya lebih kuat. Itu betul, tetapi belum cukup. Dalam terang Marion, yang paling penting di Golgota bukan sekadar bahwa rasa sakit itu besar, melainkan bahwa melalui rasa sakit itu Allah menyatakan diri sebagai kasih yang memberi diri. Jadi pusat Jumat Agung bukan pada rasa sakit itu sendiri, melainkan pada kasih yang tidak menarik diri dari rasa sakit demi keselamatan manusia.
Ini penting, sebab gereja sangat mudah jatuh pada spiritualitas yang memuja penderitaan. Kita bisa terlalu fokus pada darah, cambukan, paku, dan luka, sampai lupa bahwa semua itu bukan nilai pada dirinya sendiri. Yang menyelamatkan bukan rasa sakit itu, melainkan kasih yang rela menyerahkan diri melalui rasa sakit itu. Salib bukan panggung untuk mengagumi derita suci. Salib adalah pewahyuan Allah sebagai kasih.
Karena itu, Marion akan bertanya: ketika jemaat mendengar khotbah Jumat Agung, apakah mereka hanya dibawa untuk merasa sedih dan tersentuh, atau sungguh dibawa sampai pada titik di mana mereka merasa dipandang balik oleh Kristus yang tersalib? Sebab salib sebagai ikon tidak pernah membiarkan kita aman sebagai penonton. Ia menanyakan sesuatu kepada kita: apakah kasih kita hanya hidup ketika semua berjalan baik? Apakah kita masih mau mengampuni ketika terluka? Apakah kita hanya mengagumi Kristus yang memikul salib, atau kita juga siap memikul beban sesama?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini membuat salib tidak jatuh menjadi idol. Sebab begitu salib hanya berfungsi untuk membuat kita menangis, merasa terhibur, atau kagum, tetapi tidak menuntut perubahan, di situlah religiusitas menjadi nyaman. Dan religiusitas yang terlalu nyaman, bagi Marion, sangat dekat dengan idolatri. Bukan karena ia tidak saleh, tetapi karena ia terlalu cepat memberi kepuasan rohani tanpa pembaruan hidup.
Bagi gereja-gereja di NTT, refleksi ini sangat relevan. NTT kaya dengan simbol, prosesi, drama iman, nyanyian, dan perayaan gerejawi yang kuat. Itu kekayaan rohani yang besar. Tetapi setiap kekayaan simbolik membawa risiko yang sama: simbol-simbol itu bisa hidup sebagai ikon, atau merosot menjadi idol. Salib yang dibawa dalam prosesi, fragmen sengsara yang dipentaskan, khotbah yang menyentuh hati, dan lagu-lagu yang memilukan, semuanya bisa sungguh menjadi jalan kepada Allah, tetapi semuanya juga bisa berhenti sebagai konsumsi religius.
Karena itu, pertanyaan penting bagi gereja bukan hanya “apakah ibadah Jumat Agung berlangsung khusyuk nan emosional?” tetapi “apakah salib sungguh berbicara ke hidup umat?” Apakah jemaat yang pulang dari ibadah menjadi lebih rendah hati? Lebih berani mengampuni? Lebih peka pada penderitaan tetangga? Lebih setia dalam luka? Lebih tergerak merawat alam? Lebih siap berdiri bersama mereka yang tertindas dan tersingkir? Kalau jawabannya tidak, kita patut bertanya: jangan-jangan yang kita alami baru rasa haru, belum perjumpaan dengan ikon kasih.
Marion juga menolong gereja menjaga misteri salib. Sering kali kita terlalu cepat menjelaskan Jumat Agung dengan kalimat-kalimat yang rapi. Semua dibuat selesai dan tertutup. Padahal salah satu kekuatan salib justru terletak pada kedalaman yang tidak habis dijelaskan. Seruan Yesus, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”, jangan terlalu cepat dibuat seolah-olah sudah sepenuhnya jelas dan selesai dipahami. Dalam salib ada gelap, ada luka, ada jarak, ada misteri. Justru dengan menjaga misteri itu, gereja menolak menjadikan Allah sebagai objek yang sepenuhnya bisa dikuasai oleh konsep kita.
Karena itu, mungkin tugas penting dalam penghayatan Jumat Agung hari ini adalah mengembalikan salib pada daya ikoniknya. Khotbah tidak cukup hanya menolong orang memahami bahwa kasih Tuhan besar. Khotbah harus menolong orang berdiri di hadapan kasih itu dengan gentar. Tidak hanya berkata, “Betapa baiknya Tuhan,” tetapi juga, “Apa yang sekarang dituntut dari saya oleh kasih ini?”
Kita tetap bisa berkata: “Kasih Tuhan lebih besar dari rasa sakit-Nya.” Tetapi kalimat itu harus diberi kedalaman baru. Maknanya bukan sekadar bahwa Yesus sanggup bertahan menanggung derita. Maknanya lebih dari itu: di salib, Allah menyatakan bahwa hakikat-Nya adalah kasih yang memberi diri, dan kasih itu sekarang memandang kita balik serta menuntut hidup baru.
Pada akhirnya, gereja perlu menjaga agar salib tetap menjadi ikon kasih, bukan idol rasa haru. Sebab iman Kristen tidak dibangun di atas emosi yang indah, melainkan di atas perjumpaan dengan kasih Allah yang begitu besar sehingga tidak berhenti di kayu salib, tetapi diteruskan dalam hidup umat-Nya. Kalau di bawah salib kita hanya menangis, kita belum selesai. Kalau di bawah salib kita mulai berubah, mungkin di situlah kasih itu sungguh telah menyentuh kita.
