Ketika Agama Dipotong, Kemarahan Dipanen
****
Dalam beberapa hari terakhir, kita kembali menyaksikan pemandangan yang semakin akrab di ruang digital Indonesia: sebuah potongan pernyataan beredar, kemarahan meledak, identitas saling berhadapan, lalu akal sehat datang paling akhir.
Polemik atas pernyataan Jusuf Kalla bukan hanya soal siapa yang benar dan siapa yang salah. Ia membuka borok yang lebih dalam: betapa rapuhnya cara kita membaca, betapa murahnya emosi diperdagangkan, dan betapa cepatnya luka kolektif dijadikan bahan bakar viralitas.
Kita sedang hidup dalam republik algoritma. Di sana, yang paling laku bukan penjelasan yang utuh, melainkan potongan yang paling tajam. Yang paling cepat menyebar bukan kebenaran yang jernih, melainkan kalimat yang sanggup menyalakan kemarahan. Di era ini, yang dipotong bukan cuma video, tetapi juga kesabaran, konteks, dan kemampuan kita untuk berpikir dengan kepala dingin.
Itulah sebabnya saya memandang polemik ini harus dibaca lebih dalam daripada sekadar pro atau kontra terhadap seorang tokoh. Soalnya bukan hanya tentang satu ucapan. Soalnya adalah kebiasaan publik kita yang makin gemar bereaksi sebelum memahami. Kita lebih cepat tersinggung daripada menelusuri. Lebih cepat menghakimi daripada mendengar. Lebih cepat membagikan daripada memverifikasi.
Ini berbahaya, terutama ketika yang disentuh adalah perkara agama.
Agama seharusnya menjadi rumah teduh bagi nurani. Tetapi di tangan amarah digital, agama bisa berubah menjadi korek api. Sekali dilempar ke ruang publik yang penuh prasangka, percikannya cukup untuk membakar persaudaraan. Kita tahu sejarah bangsa ini tidak miskin luka. Karena itu, setiap kata yang bersinggungan dengan iman harus diperlakukan dengan tanggung jawab moral yang tinggi. Bukan dengan sensasi, bukan dengan potongan, dan bukan dengan sorak-sorai digital yang haus darah.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa publik terutama umat Kristen tidak boleh tersinggung. Rasa sakit harus dihormati. Kegelisahan umat harus didengar. Tetapi rasa sakit tidak boleh menghapus kejujuran intelektual. Kalau sebuah pernyataan hendak dinilai, nilailah secara utuh. Kalau sebuah ucapan menimbulkan luka, jawabannya bukan hanya kemarahan, melainkan juga kejernihan. Sebab kemarahan tanpa kejernihan hanya akan melahirkan kebisingan; dan kebisingan adalah musuh dari kebenaran.
Di titik inilah media, tokoh publik, dan warga digital diuji.
Media tidak boleh menjadikan luka sejarah sebagai komoditas klik. Tokoh publik tidak boleh berbicara seolah kata-kata tidak memiliki akibat. Dan warga digital tidak boleh merasa setiap amarah otomatis adalah kebenaran. Demokrasi membutuhkan kebebasan berbicara, tetapi kebebasan itu hanya akan mulia jika dibarengi tanggung jawab untuk tidak memelintir, tidak memprovokasi, dan tidak memperdagangkan sentimen identitas demi tepuk tangan sesaat.
Bangsa ini tidak sedang kekurangan orang yang pandai berbicara. Bangsa ini kekurangan orang yang bersedia menanggung akibat moral dari kata-katanya. Kita juga tidak kekurangan informasi. Yang kita kekurangan adalah jeda-jeda untuk memeriksa, jeda untuk memahami, jeda untuk bertanya: benarkah yang saya marahi ini benar-benar seperti yang saya lihat?
Karena itu, polemik ini harus menjadi alarm bersama. Jangan biarkan algoritma mengalahkan akal sehat. Jangan biarkan potongan video mengalahkan keutuhan nurani. Jangan biarkan agama dipinjam oleh amarah yang bahkan tidak sempat berpikir.
Indonesia tidak akan runtuh karena perbedaan. Tetapi Indonesia bisa rapuh jika setiap kontroversi diolah menjadi pasar kemarahan.
Dan ketika kemarahan menjadi industri, yang pertama mati bukan hanya kebenaran, melainkan juga kemanusiaan kita.
