BREAKING NEWS

Belajar dari Sherly, Melanjutkan Jejak Dina, Menemukan Lidya bagi Pariwisata Alor

 Belajar dari Sherly, Melanjutkan Jejak Dina, Menemukan Lidya bagi Pariwisata Alor

Oleh: Teguh Lamentur Takalapeta, M.Fil

MimbarMudaNews--08/4/26- Ada daerah yang miskin pesona, lalu sibuk mencari daya tarik baru. Alor bukan daerah seperti itu. Alor sudah lama memiliki hampir semua yang dibutuhkan untuk dicintai: laut yang memukau, titik selam berkelas dunia, bentang pulau yang eksotis, kampung-kampung yang menyimpan ingatan budaya, dan tenun yang lahir dari ketekunan ujung jemari tangan perempuan. Persoalannya bukan pada kurangnya keindahan. Persoalannya adalah bagaimana semua keindahan itu diucapkan kembali kepada dunia dengan cara yang hidup, konsisten, dan meyakinkan.

Di situlah salah satu pekerjaan rumah terbesar pariwisata Alor berada: promosi. Kita sering mengira destinasi yang indah akan menemukan jalannya sendiri menuju perhatian publik. Padahal, keindahan saja tidak cukup. Banyak tempat sama-sama indah, tetapi tidak semua terdengar. Banyak daerah sama-sama kaya, tetapi tidak semua berhasil hadir dalam imajinasi orang. Pariwisata hari ini tidak hanya bergantung pada pemandangan, melainkan juga pada cerita, citra, dan figur yang mampu membuat orang berhenti sejenak, menoleh, lalu ingin datang.

Karena itu, pembicaraan tentang pariwisata Alor tidak boleh berhenti pada alamnya. Kita juga harus berbicara tentang siapa yang bisa menjadi wajahnya. Sebab daerah kepulauan yang kaya pesona seperti Alor, membutuhkan lebih dari sekadar program. Ia membutuhkan figur yang dapat menjahit laut, budaya, kerajinan, dan kehidupan masyarakat menjadi satu narasi yang utuh. Narasi itu harus terasa dekat, hangat, dan percaya diri. Narasi itu harus membuat orang merasa bahwa Alor bukan hanya indah, tetapi juga layak dikunjungi, dibicarakan, dan diingat.

Dalam konteks itulah Lidya Siawan Winaryo menjadi penting. Sebagai Ketua TP PKK dan Ketua Dekranasda (2025-2030) yang hadir di ruang sosial masyarakat Alor, Lidya memiliki posisi yang sangat potensial untuk memainkan peran promosi yang lebih besar. Ia memang bukan kepala daerah. Ia juga bukan pejabat teknis yang berbicara dalam bahasa perencanaan, target, dan angka. Namun justru di situlah kekuatannya. Ia dapat bergerak lebih lentur, lebih hangat, dan lebih membumi. Ia bisa mendekati publik bukan dengan beban birokrasi, melainkan dengan sentuhan sosial, kultural, dan emosional.

Lidya memiliki peluang untuk menjadi wajah yang mempromosikan Alor dengan caranya sendiri. Ia bisa hadir bukan hanya pada panggung resmi, tetapi juga pada ruang-ruang yang lebih hidup: destinasi wisata, tenun lokal, UMKM perempuan, kampung-kampung kreatif, dan narasi tentang keramahan masyarakat Alor. Dalam promosi pariwisata modern, kualitas seperti ini sangat penting. Orang tidak selalu datang karena konten promosi atau kampanye digital. Mereka datang karena merasa mengenal suatu tempat melalui figur yang mampu menyampaikannya dengan rasa.

Di titik ini, belajar dari Sherly Tjoanda menjadi relevan. Bukan karena Alor harus meniru Maluku Utara, melainkan karena kita perlu memahami satu hal sederhana: promosi daerah membutuhkan figur yang berani tampil dan mampu mengubah potensi menjadi percakapan publik. Sherly memperlihatkan bahwa seorang tokoh bisa menjadi medium promosi yang efektif ketika ia hadir dengan percaya diri, komunikatif, dan peka terhadap kekuatan simbolik citra. Ia tidak sekadar berbicara tentang daerahnya, tetapi ikut membuat daerahnya terasa hidup di mata publik.

Pelajaran dari Sherly bukan soal gaya, melainkan soal keberanian mengambil peran. Daerah tidak cukup hanya punya kekayaan. Daerah juga perlu orang yang bersedia membawa kekayaan itu keluar dari ruang lokal menuju ruang perhatian yang lebih luas. Dalam hal itulah, Alor juga membutuhkan figur yang mampu membuat lautnya lebih dikenal, tenunnya lebih dihargai, budayanya lebih terdengar, dan masyarakatnya lebih terbaca sebagai bagian dari pengalaman wisata yang utuh.

Tetapi Alor tentu tidak membutuhkan Lidya untuk menjadi Sherly yang lain. Alor membutuhkan Lidya yang tetap Lidya. Kekuatan Lidya justru terletak pada kedekatannya dengan dunia perempuan, keluarga, tenun, dan UMKM. Jika Sherly memberi pelajaran tentang pentingnya figur dalam promosi, maka Lidya dapat menerjemahkan pelajaran itu ke dalam bahasa Alor sendiri: lebih halus, lebih kultural, lebih akrab dengan keseharian masyarakat. Ia bisa mempromosikan Alor bukan hanya sebagai tujuan wisata, tetapi sebagai ruang hidup yang punya martabat budaya.


Di sinilah ingatan tentang Mama Dina menjadi penting. Pada masa Pdt. Dina Takalapeta - Meler, S.Th menjabat sebagai Ketua TP PKK dan Ketua Dekranasda (1999–2009), Alor menorehkan arah kebijakan yang jelas ketika tenun tidak hanya dimaknai sebagai simbol budaya, tetapi juga berkembang menjadi penggerak ekonomi yang melibatkan perempuan dan keluarga. Ia berhasil mengangkat tenun dari ranah domestik menjadi identitas daerah yang tampil percaya diri ke ruang publik, memperluas akses pasar melalui berbagai ajang promosi seperti Expo Alor, serta memperkuat ekosistem kerajinan hingga menjangkau tingkat nasional dan internasional. 

Komitmennya memperkuat kebudayaan dan industri kerajinan tenun mendapat pengakuan nasional melalui Anugerah Kebudayaan 2005 kategori Individu Peduli Tradisi dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, serta Piagam Penghargaan UPAKARTI Tahun 2007 kategori jasa pengabdian dalam Pembinaan Industri Kecil dan Menengah dari Menteri Perindustrian yang diserahkan langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. 

Jejak itu memberi pelajaran bahwa figur perempuan dapat memainkan peran besar dalam memperkenalkan Alor kepada dunia luar. Dari Mama Dina, kita belajar bahwa promosi daerah bisa tumbuh dari kebudayaan. Dari Sherly, kita belajar bahwa promosi daerah perlu figur yang hidup dan komunikatif. Dan dari pertemuan dua pelajaran itulah, kita menemukan alasan mengapa Lidya penting bagi Alor hari ini.

Karena itu, yang dibutuhkan dari Lidya bukan sekadar kehadiran dalam acara-acara resmi. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk mengambil tempat sebagai wajah promosi Alor. Ia tidak perlu berlebihan. Ia tidak perlu menjadi pusat sorotan dengan cara yang artifisial. Tetapi ia bisa konsisten menyuarakan Alor melalui langkah-langkah yang sederhana namun bermakna: mengunjungi destinasi dan menceritakannya dengan hangat, memperkenalkan tenun sebagai identitas budaya yang elegan, mengangkat produk-produk UMKM perempuan, dan menjadikan media sosial atau ruang publik sebagai medium untuk membangun kebanggaan terhadap Alor.

Bayangkan bila promosi pariwisata Alor ke depan tidak lagi terasa kering dan administratif. Bayangkan bila setiap kunjungan ke destinasi berubah menjadi cerita yang ingin dibagikan. Bayangkan bila tenun Alor tidak hanya hadir dalam seremoni, tetapi juga dalam imajinasi wisatawan sebagai simbol kelas, ketekunan, dan keindahan budaya. Bayangkan bila laut Alor tidak hanya dikenal di kalangan penyelam, tetapi juga hadir dalam percakapan publik nasional sebagai salah satu wajah terbaik pariwisata bahari Indonesia. Pada titik itu, promosi tidak lagi sekadar menjadi urusan publikasi. Ia menjadi kerja kebudayaan.

Bahkan, akan menjadi gambaran promosi yang sangat kuat bila suatu hari Sherly Tjoanda datang ke Alor atas undangan Lidya, lalu keduanya bersama-sama menyelam untuk memperkenalkan laut Alor kepada publik yang lebih luas. Itu bukan sekadar momen simbolik. Itu adalah pesan bahwa perempuan-perempuan dari timur Indonesia dapat saling menguatkan dalam membangun citra daerahnya. Dan untuk Alor, pesan semacam itu akan sangat berarti: bahwa daerah ini tidak hanya punya laut yang indah, tetapi juga punya keberanian untuk tampil.


Namun, seluruh pembicaraan tentang promosi akan menjadi dangkal jika berhenti pada citra. Ujung dari promosi haruslah kesejahteraan. Karena itu, pariwisata Alor harus ditempatkan sebagai strategi utama pembangunan ekonomi daerah. Memang benar, sebagian penerimaan dari aktivitas wisata bahari mengalir ke tingkat provinsi. Namun hal itu tidak berarti Alor harus menjadi penonton. Tantangannya adalah bagaimana membangun ekosistem pariwisata yang memberi ruang bagi perputaran ekonomi di tingkat lokal. Penguatan desa wisata, produk UMKM, penjualan tenun, event budaya, transportasi lokal, serta paket wisata darat menjadi bagian penting dalam memastikan manfaat pariwisata benar-benar dirasakan masyarakat Alor.

Di sinilah harapan terhadap Lidya menemukan maknanya yang paling nyata. Kita tidak sedang menaruh harapan kepadanya sebagai pembuat kebijakan teknis. Yang diharapkan adalah sesuatu yang sama pentingnya: ia berani menjadi penggerak rasa, penggerak perhatian, dan penggerak citra bagi Pariwisata Alor. Sebab sering kali, pembangunan tidak hanya membutuhkan program yang baik, tetapi juga wajah yang mampu menghidupkan keyakinan publik. Dan Lidya memiliki peluang besar untuk menjadi wajah itu.

Belajar dari Sherly, melanjutkan jejak Dina, lalu menemukan Lidya bagi Pariwisata Alor sesungguhnya adalah cara kita membaca masa depan. Bahwa Alor tidak kekurangan modal. Bahwa Alor hanya perlu lebih percaya diri dalam memperkenalkan dirinya. Bahwa lautnya yang berkelas dunia, budayanya yang khas, dan perempuan-perempuan yang menjaga identitasnya dapat dipertemukan dalam satu gerak promosi yang lebih kuat.

Jika itu berhasil dilakukan, maka pariwisata tidak hanya akan menjadi kebanggaan Alor. Ia akan menjadi penggerak ekonomi, penguat martabat budaya, dan penopang fiskal daerah. Dan kita boleh berharap lebih jauh: suatu hari nanti, pariwisata bukan hanya menjadi salah satu sumber PAD Kabupaten Alor, melainkan tumbuh menjadi sumber PAD terbesar. Harapan itu tidak berlebihan. Alor sudah memiliki namanya. Yang dibutuhkan sekarang adalah orang-orang yang berani menenunnya kembali ke dalam perhatian dunia.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image