Soroti Integritas GAMKI Kota Makassar, M. Vicky R.F: Pelayanan Bukan Barang Dagangan!
MAKASSAR, 26/3/26, MIMBAR MUDA NEWS – Konferensi Cabang (Konpercab) Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kota Makassar kini tengah berada dalam sorotan tajam. Dugaan praktik politik transaksional yang melibatkan "tebar amplop" mulai mengusik ketenangan proses suksesi kepemimpinan organisasi pemuda gereja tersebut.
Aktivis muda, M. Vicky R.F., secara terbuka menyuarakan keprihatinannya terhadap dinamika yang terjadi di lapangan. Ia menyoroti adanya jurang pemisah yang lebar antara kandidat yang mengandalkan kekuatan logistik dengan kandidat yang murni membawa gagasan pelayanan.
Menurut Vicky, di saat sebagian besar kader sedang serius membangun komunikasi dan membedah visi demi masa depan organisasi, muncul fenomena oknum calon yang justru sibuk "bergerilya" melakukan manuver non-teknis.
"Sangat miris melihat cara-cara seperti ini. Di saat semua calon sedang berkomunikasi dan memberikan gagasannya yang terbaik, ternyata ada juga calon yang sibuk ke sana kemari mencari dukungan suara dengan menebar 'amplop' yang dibungkus dalih uang mobilisasi," ungkap M. Vicky R.F. dengan nada kecewa.
Ia menilai, penggunaan istilah uang mobilisasi hanyalah kedok untuk memuluskan praktik politik uang yang mencoreng marwah GAMKI sebagai organisasi pelayanan. Sungguh kasihan melihat cara-cara begini. Semoga Tuhan Yesus berkenan dan memberi kesehatan ke kanda-kanda yang lagi jalan (menebar amplop) itu," sindirnya.
Isu integritas ini semakin memanas ketika publik mulai membandingkan latar belakang para kandidat. Di satu sisi, terdapat kekuatan modal besar yang seolah ingin "membeli" mandat kepemimpinan. Di sisi lain, muncul sosok Firmez, Calon DPC GAMKI Makassar yang dikenal dengan latar belakang sederhana sebagai anak petani.
Vicky menekankan bahwa Konpercab seharusnya menjadi ruang bagi siapa saja yang memiliki kualitas, tanpa harus terganjal oleh tembok tebal kapitalisme.
"Ini adalah pertarungan nilai. Kita melihat ada calon yang mungkin merasa bisa mengatur segalanya karena 'banyak duit', tapi jangan lupa ada figur seperti Firmez yang datang dari latar belakang anak petani. Dia membawa ketulusan dan semangat pelayanan yang murni, bukan tumpukan amplop," tegas Vicky.
Kehadiran Firmez sebagai anak petani menjadi simbol perlawanan terhadap pragmatisme politik di internal organisasi. Hal ini memicu pertanyaan besar bagi para pemilik suara: Apakah GAMKI Makassar akan dipimpin oleh mereka yang berorientasi pada uang, atau oleh kader yang mengerti arti kerja keras dan ketulusan dari akar rumput?
Vicky mengingatkan bahwa GAMKI bukan sekadar organisasi kepemudaan biasa, melainkan wadah yang mengemban nilai-nilai Kristiani. Integritas pelayanan menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar dengan nominal rupiah dalam amplop.
"Jika dari prosesnya saja sudah mengandalkan kekuatan materi untuk membungkam idealisme, lantas apa yang bisa kita harapkan dari hasil pelayanannya nanti? Integritas GAMKI Makassar sedang dipertanyakan hari ini," tutupnya.
Publik dan kader GAMKI kini menaruh harapan besar agar Konpercab tidak terjebak dalam pusaran politik transaksional, melainkan mampu melahirkan pemimpin yang benar-benar takut akan Tuhan dan berkomitmen pada kemajuan pemuda Kristen di Makassar.
